BeritaPendidikan

Jaga Bahasa Ibu, SDN Panaongan III Sumenep Hidupkan Bahasa Madura Lewat Program Abang Samad

333
×

Jaga Bahasa Ibu, SDN Panaongan III Sumenep Hidupkan Bahasa Madura Lewat Program Abang Samad

Sebarkan artikel ini

Sumenep – Komitmen pelestarian bahasa daerah tak selalu lahir dari kebijakan besar. Di sebuah sekolah dasar pedesaan, SDN Panaongan III, Kecamatan Panaongan, Kabupaten Sumenep, upaya membumikan Bahasa Madura telah berjalan jauh sebelum regulasi resmi diterbitkan pemerintah daerah.

Sekolah ini sejak lama menggagas program “Abang Samad”, akronim dari Aku Bangga Berbahasa Madura. Program tersebut menjadi bagian dari budaya sekolah yang menempatkan Bahasa Madura bukan sekadar mata pelajaran, melainkan bahasa hidup dalam keseharian warga sekolah.

Program Abang Samad kini semakin relevan seiring diberlakukannya Peraturan Bupati Sumenep Nomor 55 Tahun 2025 tentang Bahasa Madura sebagai muatan lokal wajib di semua jenjang pendidikan, mulai PAUD, SD, hingga SMP. Peraturan yang berlaku sejak 16 Oktober 2025 itu menegaskan pentingnya revitalisasi dan pelestarian Bahasa Madura, termasuk ketentuan pembelajaran minimal dua jam per minggu di jenjang SMP sebagai upaya menguatkan posisi bahasa daerah di tengah gempuran budaya luar.

 

Menariknya, jauh sebelum Perbup tersebut terbit, SDN Panaongan III telah lebih dulu membudayakan Bahasa Madura dalam aktivitas harian. Setiap pagi, siswa disambut dengan sapaan berbahasa Madura. Kepala sekolah, Agus Sugianto, S.Pd, yang dikenal ikonik dengan blangkonnya, konsisten berdialog menggunakan bahasa Madura halus saat berinteraksi dengan siswa.

“Kalau ada penggunaan bahasa yang kurang tepat, langsung diperbaiki,” tutur salah satu guru. Kebiasaan ini membuat siswa terbiasa, percaya diri, dan santun dalam berbahasa Madura sejak dini.

Tak berhenti di situ, SDN Panaongan III juga memiliki program khas bernama “Ba’cateng” atau Ngamba’ Kanca Dateng (Menyambut Teman Datang). Program ini menegaskan komitmen sekolah menjadikan Bahasa Madura sebagai identitas sekaligus alat pemersatu dalam lingkungan pendidikan.

Kesungguhan tersebut berbuah prestasi. Di ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), baik tingkat Kabupaten Sumenep maupun Provinsi Jawa Timur, sekolah ini kerap menorehkan hasil membanggakan. Salah satunya, Sulaiman, siswa SDN Panaongan III, yang berhasil meraih Juara III FTBI tingkat Provinsi Jawa Timur tahun 2025.

Saat ditemui awak media, Kepala SDN Panaongan III, Agus Sugianto, S.Pd, menyampaikan alasannya dengan sederhana namun sarat makna.

“Apa yang kami lakukan ini adalah tanggung jawab moral sebagai putra daerah. Kalau generasi muda sudah apatis terhadap budaya dan bahasa Madura, maka bukan tidak mungkin bahasa dan budaya kita akan musnah,” ujarnya singkat.

Di tengah arus globalisasi dan dominasi budaya luar, langkah kecil dari SDN Panaongan III menjadi bukti bahwa sekolah dapat menjadi benteng utama pelestarian bahasa daerah. Dari Panaongan, semangat menjaga jati diri Madura terus disemai pelan, konsisten, dan penuh kebanggaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *