SUMENEP – Di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan zaman, upaya menjaga identitas budaya menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab generasi muda. Kesadaran itulah yang mendorong Generasi Emas Nusantara (GEN) Sumenep menggelar dialog kebudayaan bertajuk “Generasi Emas; Menjaga Warisan, Menguatkan Peradaban” di Taman Andhap Asor Keraton Sumenep, Selasa (9/6/2026) malam.
Kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh kehangatan dan refleksi itu menghadirkan Budayawan Nasional H. Ibnu Hajar, M.Pd., Bupati Sumenep Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo, S.H., M.H., serta Kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar Sumenep Mohammad Zaini sebagai narasumber. Diskusi dipandu oleh Sekretaris GEN Sumenep, Aliya Zahra.
Turut hadir Staf Ahli Bupati Sumenep Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Hizbul Wathan, S.H., M.H., Ketua GEN Jawa Timur Muhammad Romli, Ketua GEN Sumenep Fauzi, serta anggota GEN dari berbagai kecamatan di Kabupaten Sumenep.
Mewakili Bupati Sumenep, Hizbul Wathan menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya dialog kebudayaan tersebut. Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi bukti bahwa generasi muda masih memiliki kepedulian terhadap pelestarian nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.
Ia menjelaskan bahwa suluk budaya merupakan proses perenungan dan perjalanan batin dalam memahami serta mengamalkan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat.
“Ini adalah pencarian jati diri kita sebagai masyarakat Sumenep dan Madura. Karena itu saya mengajak seluruh generasi muda untuk terus merawat dan menjaga budaya sebagai identitas yang tidak boleh hilang ditelan zaman,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar Sumenep, Mohammad Zaini, menegaskan bahwa upaya pelestarian budaya memiliki landasan hukum yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Menurutnya, Kabupaten Sumenep memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, mulai dari situs bersejarah, tradisi, hingga berbagai bentuk kesenian yang harus dijaga keberlangsungannya.
“Sumenep memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Semua itu akan tetap hidup apabila generasi muda memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk merawatnya,” katanya.
Pada sesi penutup, Budayawan Nasional H. Ibnu Hajar memberikan pesan yang menggugah kepada para peserta. Ia mengajak generasi muda untuk mencintai budaya sendiri dengan cara pandang yang terbuka dan inklusif.
Ia mencontohkan Jepang sebagai negara yang mampu menjaga budaya dan peradabannya meski pernah mengalami kehancuran akibat perang. Menurutnya, kemajuan yang dicapai Jepang saat ini tidak terlepas dari peran generasi muda yang memiliki kesadaran tinggi terhadap budaya bangsanya.
“Mari kita rawat budaya Sumenep yang arif ini dengan paradigma yang inklusif. Kemajuan peradaban tidak lahir dari melupakan budaya, tetapi dari kemampuan menjaga dan mengembangkannya sesuai perkembangan zaman,” tuturnya.
Dialog kebudayaan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran generasi muda bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi utama dalam membangun peradaban yang berkarakter dan berkelanjutan di masa depan.












