Berita

Bukan Mencari Nama, H. Ali Zainal Abidin Ungkap Makna Penyematan Nama Orang Tua di Balik Gerakan Kemanusiaan BIP

1194
×

Bukan Mencari Nama, H. Ali Zainal Abidin Ungkap Makna Penyematan Nama Orang Tua di Balik Gerakan Kemanusiaan BIP

Sebarkan artikel ini

SURABAYA – Menanggapi dinamika informasi terkait rencana penyaluran bantuan senilai Rp2 miliar untuk Griya Lansia Malang dan Griya Yatim Sidoarjo, Founder Yayasan Bani Insan Peduli (BIP), Ali Zainal Abidin, akhirnya angkat bicara. Dalam pertemuan silaturahmi bersama awak media di Surabaya, Minggu (12/7/2026), pria yang akrab disapa Bang Ali ini meluruskan duduk perkara dengan suasana sejuk dan penuh rasa hormat.

​Bang Ali menegaskan bahwa tidak ada niatan sedikit pun untuk memutus tali persaudaraan. Meskipun terdapat perbedaan pandangan terkait prosedur teknis, ia tetap memandang Ketua Yayasan Griya Lansia, Arif Camra, sebagai sosok guru yang patut dihormati.

​”Pak Arif itu guru saya. Saya masih perlu banyak belajar kepada beliau. Apa yang terjadi hanyalah miskomunikasi. Saya berharap pintu silaturahmi tetap terbuka demi kemaslahatan para lansia dan anak yatim yang menjadi tanggung jawab kita bersama,” ujar Ali dengan tenang.

​Meluruskan Kabar Pembatalan

​Terkait isu pembatalan bantuan, Ali menjelaskan bahwa pihak BIP tidak pernah memiliki niat untuk membatalkan komitmen kemanusiaan yang telah dirancang. Menurutnya, justru pihak penerima yang meminta bantuan tersebut ditarik kembali karena adanya keberatan terkait standar operasional prosedur (SOP) penyaluran bantuan.

​”Selama ini tidak ada komunikasi dari kami untuk membatalkan bantuan. Justru pihak Griya Lansia yang meminta bantuan dibatalkan karena menganggap ada ketidaksesuaian SOP. Selain itu, ada permintaan nomor rekening yang tiba-tiba, padahal bantuan tersebut dirancang bertahap dan sebagian besar dalam bentuk barang/pembangunan fisik,” jelasnya.

​Terkait polemik pencantuman nama pada fasilitas bantuan, Ali memberikan penjelasan mendalam mengenai filosofi di balik yayasannya. Nama BIP sendiri merupakan singkatan dari Bakti Anak Nurani Ibu.

​Pencantuman nama almarhumah ibunda (Ainun) dan almarhum ayahanda (Umar Syarif) pada setiap fasilitas sosial yang dibantu penuh oleh yayasan bukanlah untuk mencari kehormatan pribadi, melainkan bentuk ikhtiar bakti seorang anak agar amal jariyah kedua orang tuanya terus mengalir.

​”Salahkah saya jika menyematkan nama mendiang orang tua pada tempat yang kami bantu sepenuhnya? Itu adalah cara saya berbakti. Semoga setiap doa yang dipanjatkan dan ayat yang dibaca di tempat-tempat tersebut menjadi pahala yang tidak terputus bagi mereka,” ungkap Ali penuh haru.

​Sejauh ini, dedikasi tersebut telah diwujudkan dalam beberapa aset kemanusiaan, di antaranya:

​Istana Tahfidz Ainun Bani, Majalengka

​Dapur Ainun, Cirebon

​Asrama Tahfidz Ainun Bani, Pacet, Sidoarjo

​Masjid BANI, Lamongan

​Asrama Umar Syarif, Wonoagung, Pondok Rimba

​Mushalla Ainun Bani, Badur, Sumenep

​Fokus pada Fastabiqul Khairat

​Menutup penjelasannya, Bang Ali berpesan kepada seluruh relawan dan anggota BIP Foundation untuk tidak terpancing oleh perdebatan data di ruang publik. Ia menekankan bahwa energi yayasan harus difokuskan pada aksi nyata untuk masyarakat.

​”Ngapain kita menghadapi gorengan narasi di luar? Fokus utama kita adalah bagaimana manfaat bagi anak yatim dan dhuafa semakin besar. Mari kita jaga kedamaian, sabar, memaafkan, dan terus Fastabiqul Khairat,” tutupnya.

​Sebagai informasi, BIP Foundation terus menunjukkan konsistensinya dalam menebar kebaikan. Mulai dari santunan ribuan anak yatim dan dhuafa, bantuan umrah gratis bagi yang membutuhkan, hingga pembagian ribuan tas serta peralatan sekolah bagi anak-anak di tahun ajaran baru, semua dilakukan dengan semangat gotong royong dan ketulusan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *