BeritaSosial

MWC NU Pasongsongan Resmi Dilantik, Perkuat Konsolidasi Umat dan Kemandirian Organisasi

259
×

MWC NU Pasongsongan Resmi Dilantik, Perkuat Konsolidasi Umat dan Kemandirian Organisasi

Sebarkan artikel ini

Sumenep – Semangat penguatan organisasi dan pemberdayaan umat mewarnai Pelantikan Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Pasongsongan Masa Khidmat 2026–2031 yang berlangsung khidmat di Gedung KH. Abdul Wachab Hasbullah Pasongsongan, Senin (8/6/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri unsur Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) Pasongsongan, jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumenep, para pengurus ranting NU se-Kecamatan Pasongsongan, badan otonom dan lembaga NU, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta KH. Muh. Unais Ali Hisyam.

Momentum pelantikan tidak hanya menjadi agenda seremonial organisasi, tetapi juga menjadi ajang konsolidasi besar keluarga Nahdlatul Ulama di Kecamatan Pasongsongan. Pada kesempatan tersebut juga berlangsung penyerahan sertifikat Kantor MWC NU Pasongsongan atau Gedung KH. Abdul Wachab Hasbullah kepada Pengurus Cabang NU Kabupaten Sumenep sebagai bentuk penguatan legalitas aset organisasi.

Ketua MWC NU Pasongsongan, K. Ahmad Riyadi, M.Pd, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang telah hadir dan memberikan dukungan terhadap perjalanan organisasi NU di Pasongsongan.

“Pelantikan ini jangan diartikan sebagai acara seremonial belaka. Ini adalah bentuk konsolidasi antara MWC NU Pasongsongan dengan PC NU Kabupaten Sumenep, Forpimka Kecamatan Pasongsongan, pengurus ranting, badan otonom, serta lembaga-lembaga NU,” ujarnya.

 

Ia menegaskan bahwa posisi Syuriyah merupakan pemegang kebijakan tertinggi dalam organisasi NU. Oleh karena itu, dirinya berharap adanya kontrol yang konstruktif dan kritis terhadap jajaran Tanfidziyah demi menjaga arah perjuangan organisasi.

“Kami berharap adanya kontrol yang kritis dari semua pihak, terutama dari Syuriyah MWC NU Pasongsongan. Transparansi menjadi komitmen kami, termasuk keterbukaan akses manajemen keuangan yang dapat diakses dan diketahui oleh seluruh pihak yang berkepentingan,” tegasnya.

Sementara itu, Camat Pasongsongan, Fariz Aulia Utomo, S.STP., M.Si., menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas terselenggaranya pelantikan pengurus MWC NU Pasongsongan masa khidmat 2026–2031.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan NU harus terus diperkuat untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Yang masih kurang mari kita benahi bersama, sedangkan yang sudah baik harus terus dipertahankan. Potensi lokal yang dimiliki Pasongsongan harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendongkrak ekonomi umat dan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua PC NU Kabupaten Sumenep, K. Halqi, S.Ag, mengingatkan bahwa jabatan pengurus NU merupakan amanah mulia yang diwariskan oleh para muassis Nahdlatul Ulama.

“Setelah dibaiat menjadi pengurus MWC NU, maka kita telah menerima amanah luhur dari para pendiri NU untuk melanjutkan cita-cita perjuangan mereka,” katanya.

Ia menekankan tiga peran strategis yang harus dijalankan pengurus NU ke depan. Pertama, menjadi konsolidator seluruh kekuatan masyarakat. Kedua, menjadi fasilitator dalam peningkatan kesejahteraan dan pelayanan kesehatan masyarakat. Ketiga, menjadi negosiator yang mampu membangun kemitraan dengan berbagai pihak demi mewujudkan kemaslahatan umat.

Sementara itu, tausiyah kebangsaan dan keumatan disampaikan oleh KH. Muh. Unais Ali Hisyam. Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa ulama merupakan pewaris para nabi sehingga keberadaan NU tidak dapat dipisahkan dari perjuangan para ulama.

“NU adalah kebangkitan para ulama. Ulama adalah pewaris para nabi. Karena itu kewibawaan ulama harus dijaga, sebab kewibawaan ulama akan berdampak pada kemaslahatan umat dan eksistensi Islam itu sendiri,” tuturnya.

KH. Muh. Unais juga mengingatkan bahwa ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, bangunan pertama yang didirikan adalah masjid. Hal tersebut menjadi simbol bahwa setiap gerakan besar umat Islam harus diawali dengan kekuatan spiritual dan ketundukan kepada Allah SWT.

“Nabi Muhammad SAW ketika hijrah membangun masjid terlebih dahulu. Ini menunjukkan bahwa pergerakan umat Islam diawali dengan sujud. Demikian pula NU, pergerakan pertamanya dimulai dengan gerakan sujud. Pondasi awal NU adalah iman, setelah iman kokoh barulah lahir berbagai gerakan kemaslahatan umat,” jelasnya.

Pelantikan MWC NU Pasongsongan Masa Khidmat 2026–2031 ini menjadi penanda dimulainya babak baru pengabdian organisasi dalam memperkuat ukhuwah, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, serta membangun sinergi dengan seluruh elemen demi terwujudnya umat yang mandiri, sejahtera, dan berdaya saing tanpa meninggalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *