Berita

Nobar “Pesta Babi” Guncang Pamekasan, Mahasiswa Gabungan Serukan Perlawanan terhadap Ketidakadilan Sosial

139
×

Nobar “Pesta Babi” Guncang Pamekasan, Mahasiswa Gabungan Serukan Perlawanan terhadap Ketidakadilan Sosial

Sebarkan artikel ini

PAMEKASAN — Suasana Rumah Pengabdian di Jalan Mak Gang I Taman Laden, Kecamatan Pamekasan, Sabtu malam (23/5/2026), berubah menjadi ruang refleksi penuh kegelisahan. Puluhan mahasiswa dan masyarakat umum larut dalam pemutaran film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita yang mengangkat isu perampasan ruang hidup, ketidakadilan, dan penderitaan masyarakat adat.

Kegiatan nonton bareng (nobar) yang digelar secara gratis itu merupakan kolaborasi sejumlah organisasi mahasiswa, yakni DPP Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (FKMSB), BEM FKIP UIM, Bengkel Sastra UIN Madura, dan HMPS KPI UIN Madura. Lebih dari 60 peserta hadir memadati lokasi kegiatan.

Tak sekadar menjadi ajang menonton film, kegiatan tersebut menjelma menjadi ruang diskusi sosial yang menggugah kesadaran. Pengantar film, Ach. Faisol, S.H., turut memberikan pemaparan mengenai persoalan kemanusiaan dan ketimpangan sosial yang diangkat dalam film dokumenter tersebut.

Ketua Penyelenggara yang juga Ketua DPP FKMSB Nasional, Nurisul Anwar, menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton atas berbagai ketidakadilan yang terjadi di sekitar mereka.

Menurutnya, malam nobar itu bukan sekadar hiburan, melainkan panggilan moral agar anak muda memiliki mata yang terbuka dan hati yang hidup terhadap penderitaan sesama.

Ia menyebut film Pesta Babi bukan sekadar tontonan biasa, melainkan gambaran nyata tentang bagaimana ruang hidup, budaya, dan masa depan masyarakat adat dipertaruhkan atas nama kepentingan tertentu.

Nurisul juga mengajak seluruh peserta untuk belajar menjadi pendengar yang baik terhadap suara-suara yang selama ini jarang mendapat ruang. Ia menilai masyarakat harus mulai peka terhadap rasa takut, kemarahan, dan harapan kelompok-kelompok yang kerap terpinggirkan.

Tak hanya itu, ia mengingatkan agar pesan dalam film tidak berhenti di layar semata. Kepedulian sosial, kata dia, harus dibawa pulang ke lingkungan kampus, tempat tinggal, hingga ruang-ruang diskusi sehari-hari.

Baginya, kepekaan sosial tidak cukup hanya diwujudkan lewat rasa iba. Mahasiswa harus mampu menerjemahkan kepedulian menjadi aksi nyata, baik melalui tulisan, diskusi, maupun program yang bersentuhan langsung dengan realitas masyarakat.
Ia menegaskan, anak muda harus berani melawan sikap apatis dan tidak boleh diam ketika menyaksikan ketidakadilan terjadi di depan mata.

Di penghujung kegiatan, Nurisul menyampaikan rasa bangganya kepada seluruh peserta yang hadir. Kehadiran mereka, menurutnya, menjadi tanda bahwa masih ada generasi muda yang memiliki keberanian untuk peduli terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan.

Kegiatan nobar itu pun ditutup dengan harapan agar seluruh peserta pulang bukan hanya sebagai penonton, melainkan sebagai manusia yang lebih peka, lebih berani, dan lebih peduli terhadap kondisi sosial di sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *